Perjalanan kopi dari semak liar di dataran tinggi Ethiopia hingga menjadi tanaman yang dibudidayakan di hampir setiap benua tropis melewati biara, kedai kopi yang dilarang, taman kerajaan, dan perkebunan yang dibangun dengan kerja paksa. Sebagian dari rangkaian ini tercatat dalam buku dagang dan dokumen pemerintah. Sebagian lainnya adalah cerita rakyat yang diceritakan ulang begitu sering hingga dianggap sebagai fakta. Kedua bagian ini sama-sama layak diketahui, selama jelas mana yang mana.

Seorang penggembala kambing, sebuah biara, dan tanpa jejak dokumen
Versi yang paling populer dimulai pada abad ke-9 dengan seorang penggembala kambing bernama Kaldi, yang memperhatikan kambing-kambingnya menjadi sangat energik setelah memakan buah ceri merah dari sebuah pohon tertentu di dataran tinggi Ethiopia. Menurut cerita ini, seorang kepala biara setempat kemudian membuat minuman dari buah ceri tersebut agar tetap terjaga selama doa malam, dan kabar ini menyebar ke timur dari sana. Ini cerita yang menarik, dan bahkan National Coffee Association sendiri secara terbuka mengakui bahwa tidak ada dokumentasi nyata di balik cerita ini.[1] Yang lebih terdokumentasi adalah apa yang terjadi setelahnya.
Dua abad keunggulan Yaman
Budidaya dan perdagangan kopi yang pertama kali benar-benar tercatat terjadi di seberang Laut Merah, di Yaman, di mana para imam Sufi menggunakannya untuk tetap terjaga saat beribadah, setidaknya sejak pertengahan abad ke-15.[2] Dari pelabuhan Mocha, yang namanya kemudian dipakai untuk varietas kopi yang masih dijual dengan nama itu hingga kini, para pedagang Yaman memegang hampir seluruh monopoli pasokan kopi hijau dunia selama kurang lebih dua ratus tahun.[2] Belum ada tanda-tanda bahwa kopi akan menjadi komoditas ekspor kedua paling berharga di dunia. Saat itu kopi masih menjadi komoditas khas daerah, dan dijaga ketat sebagai komoditas khas daerah.
Kedai-kedai kopi di dunia Ottoman
Penyebaran kopi ke dunia Ottoman adalah titik di mana minuman ini pertama kali berubah menjadi institusi sosial, bukan sekadar penyegar. Sumber-sumber Yunani mengklaim kedai kopi pertama dibuka di Konstantinopel pada 1475; sumber-sumber Turki justru menandai kedatangan kopi di sana pada 1517, setelah penaklukan Mesir oleh Sultan Selim I, dengan kedai kopi pertama kota itu dibuka pada 1555.[3] Apa pun tanggal yang benar, kedai kopi dengan cepat menjadi hal yang lumrah: penulis sejarah abad ke-17, Ibrahim Peçevi, menggambarkan ruangan-ruangan berisi dua puluh atau tiga puluh pria yang membaca, bermain backgammon dan catur, serta bertukar puisi baru.[3] Popularitas ini membuat pihak berwenang cemas: sebuah fatwa pada 1543 mengharamkan kopi secara total, dan Sultan Murat IV kembali melarang kedai kopi satu abad kemudian, yang dikabarkan karena kekhawatiran kedai-kedai itu menjadi sarang pembicaraan politik.[3] Kopi bertahan melewati kedua pelarangan itu, dan biaya izin usaha kedai kopi akhirnya menjadi salah satu sumber pendapatan nyata bagi pemerintah.[3]
Kopi tiba di Eropa, dengan hati-hati
Kopi tiba di Venesia pada 1615, di mana para pemuka agama setempat awalnya memperlakukannya dengan kecurigaan yang sama seperti yang pernah ditunjukkan dunia Ottoman, hingga Paus Klemens VIII dikabarkan mencobanya sendiri dan memberikan persetujuannya.[1] Dari sana, kedai kopi menyebar ke Inggris, Austria, Prancis, Jerman, dan Belanda. Di Inggris, kedai-kedai ini mendapat julukan "universitas sepenny" (penny universities), karena satu penny cukup untuk membeli akses ke jam-jam percakapan dan perdebatan.[1] Semua ini belum melibatkan kopi yang benar-benar ditanam di dekat Eropa. Hal itu membutuhkan langkah untuk meninggalkan monopoli Yaman sepenuhnya, dan Belanda adalah pihak yang berhasil melakukannya.
Belanda, Jawa, dan asal kata "Java" itu sendiri
Pada 1616, seorang pedagang Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) bernama Pieter van den Broecke dikabarkan menyelundupkan satu pohon kopi utuh yang dicabut dari Mocha dan membawanya kembali ke taman botani di Amsterdam.[2] Butuh beberapa dekade untuk mengubahnya menjadi panen yang nyata. Upaya penanaman pada 1696 di Jawa gagal, dan baru pada 1699 Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon berhasil menanam biji Arabika di sekitar Batavia.[4] Hasilnya melampaui apa pun yang berhasil dijaga Yaman. Dalam beberapa dekade, kopi Jawa mengalahkan harga kopi Yaman sedemikian telak bahwa sekitar 1711 hingga 1726, kopi Jawa menguasai sekitar 90 persen pasar lelang kopi Amsterdam, membuat Amsterdam, bukan Mocha, menjadi pusat perdagangan kopi dunia.[4] Inilah asal langsung dari kata "Java" sebagai sebutan umum untuk kopi dalam bahasa Inggris. Cerita ini tidak sepenuhnya membanggakan: pada 1830-an, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan Cultuurstelsel (sistem tanam paksa), yang memaksa petani Jawa menanam kopi untuk ekspor di atas lahan yang semestinya untuk bertahan hidup, dan pada 1840-an hal ini membuat Jawa menjadi salah satu dari tiga penghasil Arabika terbesar di dunia, bersama Brasil dan Sri Lanka.[4]
Satu garis keturunan sempit, tumbuh di lima benua
Pohon-pohon di Jawa dan sebagian besar kopi di Belahan Bumi Barat memiliki kesamaan yang aneh: selama kurang lebih 150 tahun, hampir semuanya dapat dilacak kembali ke satu garis keturunan genetik yang sangat sempit. Sebuah bibit dari pohon-pohon Jawa dikirim ke taman botani Belanda, lalu diberikan ke Prancis; seorang perwira angkatan laut Prancis, Gabriel de Clieu, diyakini membawa satu bibit dari garis keturunan itu ke Martinik sekitar tahun 1720, yang dikabarkan sempat lolos dari serangan di atas kapal dalam perjalanannya.[2] Dalam lima puluh tahun, keturunan dari satu bibit itu saja telah berjumlah lebih dari 18 juta pohon di Martinik.[1] Dari sana, garis keturunan yang sama, dikenal sebagai Typica, mencapai Suriname sekitar 1718 dan Brasil sekitar 1727, lalu mendominasi budidaya kopi di seluruh Amerika selama lebih dari satu abad.[2] Para peneliti sejak itu menunjuk sejarah ini sebagai kemungkinan alasan mengapa kopi Arabika saat ini memiliki keragaman genetik yang sangat rendah di seluruh dunia.[2]
Kebangkitan Brasil, dan kerja paksa yang membangunnya
Brasil belum menjadi negara penghasil kopi hingga awal 1800-an, kurang lebih tiga abad setelah Yaman dan lebih dari satu abad setelah Jawa.[5] Namun Brasil mengejar ketertinggalan ini dengan cepat: pada pertengahan 1800-an, Brasil memproduksi lebih dari separuh kopi dunia.[5] Pertumbuhan itu dibangun hampir seluruhnya di atas kerja paksa dari budak asal Afrika; laju kedatangan budak yang dibawa ke Rio de Janeiro dan Bahia antara 1800 dan 1850 "jauh melampaui tempat atau masa mana pun sebelumnya," menurut riset sejarawan Steven Topik.[5] Brasil juga merupakan negara terakhir di dunia Barat yang menghapus perbudakan, pada 1888, dan setelahnya membangun kembali tenaga kerjanya dengan pekerja migran, mendatangkan hampir satu juta pekerja asal Italia, Portugal, dan Spanyol pada 1914.[5] Semua ini bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah kopi. Untuk sebagian besar abad ke-19, inilah mesin ekonomi di baliknya.
Dari kopi instan hingga cangkir di depan Anda
Perubahan pada abad ke-20 tidak sedramatis sebelumnya, tetapi menjangkau jauh lebih banyak orang: industrialisasi membuat kopi bubuk siap pakai yang diproduksi massal menjadi barang biasa di rak toko, tanpa banyak memperhatikan asalnya, lalu jaringan kedai kopi mengubah kedai itu sendiri menjadi produk yang dibeli orang.[1] "Gelombang ketiga" (third wave) kopi saat ini justru berbalik ke arah sebaliknya, menuju kopi asal tunggal dan sumber yang jelas terlihat.[1] Industri kopi Indonesia sendiri mengalami penataan ulang setelah kemerdekaan, ketika perkebunan Belanda yang dinasionalisasi diatur kembali dan para petani lokal mulai menanam beragam varietas yang membuat negeri ini dikenal hingga sekarang.[4] Tanah vulkanik yang dahulu memenuhi balai lelang Amsterdam dengan kopi Jawa adalah tanah yang sama yang mendasari sebagian besar kopi Indonesia yang ada di cangkir Anda sekarang, termasuk kopi dari Cup Taste sendiri. Penggembala kambing dan kambing-kambingnya yang energik memang jadi pembuka cerita yang lebih menarik, tetapi bagian-bagian dengan jejak dokumen, yakni monopoli Yaman, kerja paksa panen di Jawa, serta tenaga kerja budak dan kemudian migran di Brasil, itulah yang sebenarnya menjelaskan bagaimana kopi sampai ke titik ini.
Sumber
Tanggal dan angka sejarah diadaptasi dari sumber-sumber di bawah ini. Sumber diperiksa pada Oktober 2026. Cup Taste tidak berafiliasi dengan dan tidak disahkan oleh National Coffee Association, Royal Coffee, Hürriyet Daily News, Museum Nasional Indonesia, atau Lafayette College.
[1] National Coffee Association. "History of Coffee." https://www.aboutcoffee.org/origins/history-of-coffee/
[2] Royal Coffee. "A New World History & Geography of Arabica Coffee Cultivars." https://royalcoffee.com/a-new-world-history-geography-of-arabica-coffee-cultivars/
[3] Hürriyet Daily News. "Coffee and Coffeehouses Among the Ottomans." https://hurriyetdailynews.com/coffee-and-coffeehouses-among-the-ottomans-76123
[4] Museum Nasional Indonesia. "Timeline of Milestones" (sejarah kopi di Indonesia). https://www.museumnasional.or.id/wp-content/uploads/2022/11/4-Timeline-of-Milestone_ENG.docx.pdf
[5] Lafayette College. "History of Labor on Coffee Plantations" (mengutip sejarawan Steven Topik). https://exhibits.lafayette.edu/s/mate/page/labor-history