Beberapa minggu lalu, Gubernur Jakarta berdiri di depan convention center yang penuh orang-orang kopi, dan mengucapkan hal yang biasanya hanya dipikirkan diam-diam. "Kami sepenuh hati mendorong Jakarta sebagai hub utama industri kopi Indonesia," kata Pramono Anung kepada para hadirin saat pembukaan Indonesia Coffee Expo 2026.1
Itu klaim yang cukup berani untuk sebuah kota yang tidak menciptakan kopi, tidak menanam kopi, dan lebih dikenal karena kemacetannya. Tapi coba simak dulu, karena alasannya sebenarnya cukup masuk akal.
Satu Ruangan, Seluruh Rantai Pasok Kopi
ICX bukan acara baru yang dibuat asal-asalan demi foto media. Ini sudah edisi ketiganya, setelah sebelumnya singgah di Surabaya dan Medan, dan edisi Jakarta ini menarik lebih dari 75 brand kopi dan lebih dari 120 booth, ditambah kompetisi barista regional dan sesi diskusi panel.1
Daryanto Witarsa, yang memimpin Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), menyebutnya sebagai "platform buatan dalam negeri," jenis acara di mana seorang petani dari Sumatra, barista dari Jakarta Selatan, dan pembeli yang terbang jauh dari luar negeri, akhirnya bertemu di lorong yang sama.1
Itu benar-benar jarang terjadi. Kebanyakan acara besar industri kopi dunia berlangsung di tempat lain, jadi fakta bahwa Indonesia sudah cukup punya daya tarik sendiri untuk menjadi penyelenggara, patut diperhatikan.
Mengapa Kota dengan 193.000 Pelaku Usaha Kopi Ini Penting
Inilah bagian yang benar-benar mendukung rasa percaya diri sang gubernur. Jakarta saja punya hampir 193.000 orang dan pelaku usaha yang bergerak di bidang kopi, mulai dari kafe, roaster, restoran, hingga ritel.1
Kota ini menyumbang 16,32 persen dari seluruh PDB nasional, dengan inflasi yang stabil di angka 2,5 persen, jenis stabilitas ekonomi yang mungkin terdengar membosankan tapi justru itulah yang membuat sebuah industri bisa tumbuh, bukan sekadar bertahan hidup.1 Angka hampir 200.000 pelaku usaha kopi itu tidak datang begitu saja. Itu terjadi karena ada sesuatu yang berubah dalam cara kota ini minum kopi.
Hal yang Berubah Itu Adalah Budaya "Grab and Go"
Dan itu benar-benar berubah. Pramono menyebut dengan tepat apa yang bergeser, mengatakan bahwa konsumen muda sudah "menciptakan budaya baru yang berputar pada konsep 'grab and go'" yang muncul di mana-mana, dari taman kota sampai lobi coworking space.1
Kalau butuh bukti bahwa ini bukan sekadar klaim pemerintah, lihat saja apa yang sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Kopi Kenangan berdiri tahun 2017, dan pada akhir 2021, sudah menjadi jaringan kopi dengan pertumbuhan valuasi tercepat di Indonesia, dengan 610 gerai, lebih dari satu juta unduhan aplikasi, dan lebih dari 237 juta dolar AS dana yang berhasil dihimpun.2 Janji Jiwa mencapai sekitar 800 gerai waralaba dalam periode yang kurang lebih sama, dan Kedai Kopi Kulo melewati angka 250.2
Ini bukan kafe tempat orang duduk berlama-lama. Kebanyakan tidak punya WiFi, hampir tidak ada tempat duduk, dan satu cup harganya sekitar 18.000 sampai 22.000 rupiah, kira-kira separuh dari harga di jaringan kopi internasional.2 Cepat, murah, dan ada di mana-mana, persis seperti yang diinginkan generasi yang hidupnya menempel pada aplikasi delivery.
Soal Biji Kopi, Indonesia Tidak Pernah Jadi Masalah
Ini bagian yang sering dilewatkan orang di luar Indonesia. Sisi permintaan memang ramai dan baru, tapi sisi pasokan sebenarnya sudah kuat diam-diam sejak lama.
Pramono sendiri menegaskan hal ini, menyebut Gayo, Luwak, dan Toraja sebagai biji kopi daerah yang menjadi keunggulan Indonesia, dan membandingkannya dengan kopi Tanzania yang pernah ia coba, yang hanya mengandalkan satu varietas, menyebutnya "jauh berbeda dari produk lokal kami."1 Ia tidak melebih-lebihkan hanya demi efek dramatis.
Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat di dunia, dengan perkiraan produksi sekitar 12,5 juta karung berukuran 60 kilogram pada musim 2025 sampai 2026, sekitar 7 persen dari seluruh produksi kopi dunia, berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat.3 Hanya sedikit negara penghasil kopi yang bisa berpindah dari rasa tanah yang dalam ala Sumatra, ke kecerahan rasa Bali, sampai body kopi Sulawesi, tanpa pernah harus keluar dari peta negaranya sendiri.
Lalu, Ke Mana Semua Ini Sebenarnya Menuju
Jadi, apa langkah selanjutnya. Pramono tidak berhenti di satu expo domestik saja. Ia mendorong SCAI untuk membawa kembali acara internasional World of Coffee ke Jakarta, menargetkan Mei 2029, dan menjanjikan "dukungan penuh, termasuk bantuan kebijakan dan fasilitas lainnya" dari pemerintah kota.1
Berhasil memenangkan tawaran itu memang belum pasti. Tapi kota dengan sebanyak ini pelaku usaha kopi, bobot PDB sebesar ini, dan biji kopi yang benar-benar berkualitas, punya alasan yang nyata untuk diperjuangkan, dan itu bukan sekadar dibangun dari hype belaka.
Sumber: Fakta dan kutipan dalam artikel ini diambil dari sumber-sumber di bawah, yang diperiksa langsung sebelum publikasi. Cup Taste tidak berafiliasi dengan dan tidak disponsori oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Specialty Coffee Association of Indonesia, Kopi Kenangan, Kopi Janji Jiwa, Kedai Kopi Kulo, maupun Indonesia Specialty Coffee. Artikel ini disusun untuk tujuan informasi.
1 Berita Jakarta. "Jakarta Pushed to Become National Coffee Industry Hub," https://m.beritajakarta.id/en/read/155218/jakarta-pushed-to-become-national-coffee-industry-hub
2 KrAsia. "Opportunities Are Brewing in Indonesia's Grab and Go Coffee Scene," https://kr-asia.com/opportunities-are-brewing-in-indonesias-grab-and-go-coffee-scene
3 Indonesia Specialty Coffee. "Indonesia Coffee Production 2026: Understanding the Global Market," mengutip data USDA Foreign Agricultural Service, https://specialtycoffee.id/articles/indonesia-coffee-production-2026-global-market